Posisi Bulan pada tanggal 19 Juli 2012

Posisi Bulan pada tanggal 19 Juli 2012 (29 Sya'ban 1433H) pada pukul 17:40:57.

Gambar 2

Pemandangan 2.

Gambar 3

Pemandangan 3.

Gambar 4

Pemandangan 4.

Gambar 6

Pemandangan 6.

Gambar 7

Pemandangan 7.

Gambar 8

Pemandangan 8.

Gambar 9

Pemandangan 9.

Gambar 5

Pemandangan 5.

Gambar 10

Pemandangan 10.

Saturday, January 17, 2009

Bingkisan Untuk Kaum Muslimin Palestina

Nasehat Emas dari Dua Mujaddid Besar Masa Ini

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam risalahnya Fiqhul Waqi’ hal 48-50 menjelaskan :
”Sesungguhnya sebab mendasar kehinaan kaum muslimin ialah :
a. Kebodohan mereka tentang syari’at Islam yang Allah turunkan kepada hati Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam .
b. Mayoritas kaum muslimin telah mengetahui hukum-hukum Islam dalam sebagian urusan mereka, namun mereka tidak mau mengamalkan

Dengan demikian, kunci kembalinya kemuliaan Islam ialah dengan mempraktekkan ilmu yang bermanfaat dan mengerjakan amal shalih. Ini adalah masalah besar yang tidak mungkin dicapai oleh kaum muslimin melainkan dengan menerapkan manhaj At-Tashfiyyah (pembersihan) dan At-Tarbiyyah (pendidikan). Dua hal ini adalah dua kewajiban yang sangat penting dan sangat agung kedudukannya.

Yang saya maksud dengan At-Tashfiyyah adalah beberapa perkara :

1. Membersihkan aqidah Islamiyyah dari perkara yang menyimpang, seperti kesyirikan, menolak sifat-sifat Allah, menta’wilkan sifat-sifat Allah, menolak hadits-hadits shahih yang berhubungan dengan masalah aqidah, dan yang lainnya.
2. Membersihkan fiqih islam dari ijtihad-ijtihad keliru yang menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membebaskan akal dari belenggu-belenggu taqlid dan kegelapan ta’asshub.
3. Membersihkan kitab-kitab tafsir, fiqih, raqa’iq, dan yang laiinya dari hadits-hadits dha’if (lemah), maudhu’ (palsu), riwayat-riwayat isra`iliyyat, dan munkar.

Adapun yang saya maksud dengan At-Tarbiyyah ialah mendidik generasi yang tumbuh dengan Islam yang telah dimurnikan dari penyimpangan-penyimpangan di atas. Mendidik mereka dengan pendidkan Islam yang benar sejak dini dan tidak terpengaruh sedikitpun dengan sistem pendidikan ala barat yang kafir.”

Di tempat lain, Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk melepaskan muslimin dari kehinaan dan kemundurannya sekarang ini adalah dengan kembali kepada Ad-Dien, yang caranya adalah dengan menerapkan manhaj At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah. Beliau mengatakan : “Agar kita dapat memberikan dalil yang menunjukkan benarnya pendapat yang kita pegangi dalam manhaj ini, kita kembali kepada Al-Qur’an. Di dalamnya ada satu ayat yang menunjukkan kesalahan orang-orang yang menyelisihi kita pada perkara yang sudah kita yakini dan kita pastikan dengannya, yaitu bahwa Al-Bidayah (langkah pertama untuk kembali kepada dien) adalah dengan melakukan At-Tashfiyyah kemudian berikutnya At-Tarbiyyah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) [محمد/7]

Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian. [Muhammad : 7]

Inilah ayat yang dimaksud. Di sini para mufassirin telah sepakat : bahwa makna nashrullah (pertolongan Allah) adalah menerapkan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Termasuk di antaranya adalah beriman dengan hal-hal ghaib yang Allah jadikan syarat pertama bagi kaum mukminin (dengan firmannya) :

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ [البقرة/3]

Yaitu orang-orang yang beriman terhadap yang ghaib dan menegakkan shalat. [Al Baqarah : 3].

Maka, apabila pertolongan Allah tidak turun kecuali dengan cara menegakkan hukum-hukum-Nya, maka bagaimana kita dapat masuk ke dalam jihad ‘amali (yakni perang di medan tempur yang kita berharap pertolongan Allah turun padanya) sedangkan kita tidak menolong Allah sesuai dengan yang telah disepakati oleh mufassirin? Bagaimana kita bisa mendapatkan pertolongan Allah dalam berjihad sedang aqidah kita rusak? Bagaimana kita bisa mendapatkan pertolongan dalam berjihad sedang akhlak kita bejat? Jadi, sebelum berjihad harus membenarkan aqidah dan mendidik diri.

Sungguh aku tahu bahwa manhaj kita dalam melakukan At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah tidak terlepas dari pertentangan. Di sana ada yang mengatakan : ‘Sesungguhnya perkara At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah adalah perkara yang membutuhkan masa yang panjang!‘ Akan tetapi aku katakan bukan itu yang penting dalam perkara ini. Yang penting bahwa kita memulai dengan mengenal agama kita dan setelah itu, tidak menjadi masalah apakah jalannya akan panjang (lama) atau pendek (sebentar).[1]) Sesungguhnya perkataanku ini aku tujukan kepada para da’i muslimin, para ‘ulama, dan para pembimbing umat. Aku mengajak mereka agar mereka berjalan di atas ilmu yang sempurna tentang Islam yang shahih dan agar mereka dapat memerangi berbagai macam kelalaian dan kelengahan serta berbagai perselisihan dan pertentangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ [الأنفال/46]
dan janganlah kalian berselisih sehingga menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian [An Anfal : 46]

Apabila kita telah menghilangkan perselisihan dan kelalaian ini, dan kita telah menempati Shahwah Islamiyah (kebangkitan Islam) yang bersatu dan bersepakat, berarti kita mulai mengarah untuk merealisasikan kekuatan materi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ [الأنفال/60]
Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu [Al Anfal : 60]

Merealisasikan kekuatan materi adalah suatu perkara yang harus dilaksanakan, misalnya dengan harus membangun pabrik-pabrik senjata dan yang lainnya. Tetapi, sebelum itu semua haruslah kembali kepada ad-Dien yang benar sebagaimana yang ditempuh dan dijalani oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya Radhiallahu ‘Anhum, baik dalam masalah aqidah, ibadah, suluk (akhlaq), dan dalam seluruh perkara yang berkaitan dengan syariat.

Oleh karena itu, aku ulangi kembali perkataanku : Tidak ada jalan untuk terlepas dari kenyataan yang menyedihkan yang menimpa umat ini melainkan (dengan cara kembali) kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, dan menerapkan At-Tashfiyyah dan At-Tarbiyyah dalam rangka kembali kepada dua dasar tersebut. Untuk itu kita dituntut untuk mengetahui ilmu hadits yang dengannya kita bisa membedakan antara hadits yang shahih dan hadits yang dhaif, agar kita tidak menentukan hukum-hukum (agama) dengan cara yang salah, sebagaimana yang telah terjadi di kalangan muslimin akibat terlalu banyaknya mereka berpegang kepada hadits dha’if…” [2])

Asy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz Rahimahullah menerangkan :
”Jika kaum muslimin jujur dan mau serius serta bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuhnya, dengan mengerahkan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki berupa persiapan fisik dan menolong agama Allah, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong mereka. Allah jadikan mereka kuat di hadapan musuh dan mampu mengalahkan mereka serta tidak hina di bawah mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha benar perkataan dan janji-janji-Nya telah berfirman :

إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7) [محمد/7]
Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian. [Muhammad : 7]

Allah tidak lemah serta tidak butuh kepada manusia. Tapi Dia menguji hamba-hamba-Nya yang baik dengan hamba-hamba-Nya yang jelek agar terlihat kejujuran orang-orang yang jujur dan kedustaan para pendusta. Agar terlihat mana yang benar-benar sebagai mujahid dan mana yang bukan, siapa yang berharap selamat dari adzab dan siapa yang tidak. Sebenarnya Allah, Dia Maha mampu untuk menolong wali-wali-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya tanpa peperangan, tanpa jihad, dan tanpa yang lainnya. Sebagaimana Allah telah berfirman :

ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ [محمد/4]
Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain. [Muhammad : 4]

Allah berfirman di Surat Al Anfal tentang kisah Perang Badr :

وَمَا جَعَلَهُ اللهُ إِلا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ [الأنفال/10]
Dan Allah tidaklah menjadikannya kecuali sebagai kabar gembira dan agar hati kalian menjadi tentram. [Al Anfal : 10]

Yakni pengiriman bala bantuan dari-Nya berupa bala tentara malaikat

وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللهِ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (10) [الأنفال/10]
Tidaklah pertolongan itu kecuali hanya dari sisi Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. [Al Anfal : 10]

Allah juga berfirman dalam surat Ali ‘Imran :

وَمَا جَعَلَهُ اللهُ إِلا بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلا مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (126) [آل عمران/126]
Dan Allah tidaklah menjadikannya (yakni pengiriman bala bantuan dari-Nya berupa bala tentara malaikat) kecuali sebagai kabar gembira bagi kalian dan agar hati kalian tenang dengannya. Dan tidaklah pertolongan itu kecuali hanya dari sisi Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. [Ali ‘Imran : 126]

Maka pertolongan itu hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Tapi Allah (mengirimkankannya dalam bentuk) bantuan bala tentara malaikat. dan juga kekuatan yang Allah berikan dalam bentuk senjata, materi, dan pasukan yang besar. Semuanya itu merupakan sebab-sebab (datangnya) pertolongan serta kabar gembira dan ketenangan hati. Sementara pertolongan Allah tidak terkait dengan itu semua. Allah berfirman :

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (249) [البقرة/249]

Berapa banyak pasukan kecil bisa mengalahkan pasukan besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar. [Al Baqarah : 249]

Kita perlu ingat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya, dulu dalam Pertempuran Badr jumlah mereka hanya sekitar 310 orang saja. Persenjataan minim, kendaraan hanya 70 ekor onta, mereka saling bergantian dalam mengendarainya. Tidak ada kuda kecuali hanya 2 ekor saja. Adapun pasukan kafir ketika itu berjumlah sekitar 1000 personil! Dilengkapi dengan kekuatan yang besar dan persenjataan yang banyak. Namun ketika Allah menghendaki mereka (kaum kafir) hancur, maka Allah hancurkan mereka. Kekuatan dan pasukan dalam jumlah besar itu tidak ada gunanya lagi. Allah hancurkan ribuan orang (kuffar) dan kekuatan yang besar itu dengan 3000 malaikat dan 310 pasukan dengan kekuatan yang sangat lemah. Namun dengan kemudahan, pertolongan, dan bantuan Allah kaum muslimin berhasil menang dan berhasil menawan 70 kuffar serta membunuh 70 kuffar, serta berhasil memukul mundur sisanya. Semuanya itu merupakan tanda kekuasan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala dan itu merupakan pertolongan-Nya.

Demikian juga dalam pertempuran Ahzab. Tentara kuffar memerangi Kota Madinah dengan kekuatan 10.000 personil yang merupakan gabungan segenap qabilah ‘arab ketika itu, yaitu Quraisy dan yang lainnya. Mereka mengepung kota Madinah. Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabatnya menghadapi mereka dengan strategi khandaq (membuat parit sepanjang perbatasan Kota Madinah, sehingga menghalangi tentara kuffar untuk masuk, pent). Itu merupakan sebab datangnya pertolongan Allah yang hissi (tampak). Sementara tentara kuffar terus mengepung Kota Madinah sampai beberapa waktu lamanya. Kemudian Allah porak-porandakan barisan mereka tanpa melalui peperangan! Allah masukan ke hati mereka ru’b (perasaan takut dan gentar) dan Allah kirimkan angin dan tentara dari sisi-Nya (untuk mengaucaukan dan menghancurkan mereka), sehingga mereka tidak bisa tenang, akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kembali ke daerah masing-masing dengan penuh ketakutan. Ini semua merupakan pertolongan dan bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka kekuatan kuffar melemah dan mereka tidak jadi memerangi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para shahabat di Madinah. Bahkan sebaliknya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam balik memerangi mereka pada hari Hudaibiyyah. Yaitu melalui Perjanjian Hudaibiyyah, di mana terjadi kesepakatan gencatan senjata ketika itu. (Ini merupakan bentuk kemenangan Rasululullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam atas kuffar). Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memerangi kuffar tersebut secara fisik pada Ramadhan tahun 8 H dan Allah jadikan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil merebut kota Makkah. Yang akhirnya setelah itu manusia masuk Islam secara berbondong-bondong.

Jadi An-Nashr (pertolongan) itu di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menolong hamba-hamba-Nya (mukminin). Namun Allah juga memerintahkan mereka untuk melakukan sebab-sebab yang bisa mendatangkan pertolongan-Nya tersebut. Sebab terbesarnya adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah tafaqquh dan mempelajari agama-Nya, sehingga dengannya engkau mengetahui hukum-hukum Allah dan syari’at-Nya untuk dirimu dalam hal yang berkaitan dengan pribadimu, dengan orang lain, dan dengan jihadmu melawan musuhmu. Sehingga mendorongmu untuk melakukan persiapan untuk menghadapi musuh. Dengan ilmu tersebut engkau menahan diri dari larang-larangan Allah, dan engkau menunaikan perintah-perintah Allah, serta berhenti di batas-batas yang Allah tentukan. Ilmu tersebut mendorongmu untuk bekerjasama dengan saudara-saudaramu muslimin dan engkau rela mengorbankan hartamu yang paling mahal dan berharga sekalipun di jalan Allah, dalam rangka menolong agama Allah dan meninggikan kalimat Allah. Bukan untuk kepentingan negara atau suku (atau yang semisal itu).

Inilah cara dan jalan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah, yaitu dengan cara mempelajari ilmu syar’i dan tafaqquh fiddin. Semua lapisan Umat Islam harus melakukan ini, baik pemerintah maupun rakyat, baik besar maupun kecil. Kemudian mengamalkan konsekuensi-konsekuensi ilmu tersebut serta meninggalkan larangan-larangan Allah yang selama ini kita masih bergelimang di dalamnya.

-selesai penjelasan dari Asy-Syaikh Bin Baz Rahimahullah [ dari Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah V/109-112 ]

Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلىَ قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ : وَ مِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَ لَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمْ المَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَ لَيَقْذِفَنَّ اللهُ فيِ قُلُوْبِكُمْ الوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَ مَا الْوَهْنُ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَ كَرَاهِيَةُ المَوْتِ.
Hampir-hampir umat-umat (di luar kalian) mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni piring hidangannya.
Ada yang bertanya kepada beliau : “Apakah disebabkan jumlah kita sedikit pada saat itu?”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab : “Bahkan kalian pada hari itu jumlahnya banyak, akan tetapi kalian hanyalah buih seperti buih yang dibawa air bah (banjir) dan sungguh Allah akan mencabut dari dada-dada musuh kalian rasa segan (ketakutan) terhadap kalian dan Allah akan lemparkan ke dalam hati kalian ‘Al Wahn’.”
Seseorang bertanya lagi : “Wahai Rasulullah apakah ‘Al Wahn’ itu?”
Beliau menjawab : “Cinta dunia dan takut mati.” [3])

Asy-Syaikh Bin Baz Rahimahullah berkata : “Penyakit al-wahn yang tersebut dalam hadits di atas hanyalah muncul disebabkan karena kebodohan yang dengannya umat buih sepeti buih yang dibawa banjir. Mereka tidak memiliki bashirah (ilmu) tentang kewajiban mereka karena kejahilan tersebut, yang karenanya mereka hanya bernilai seperti itu (buih).” [ dari Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah V/106 ]

Asy-Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata ketika menerangkan hadits tersebut :
Kalau Hadits Tsauban di atas menyebutkan jenis penyakitnya, yaitu : Cinta dunia dan takut mati. Maka hadits Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhu berikut ini menyebutkan obatnya yang tepat sempurna untuk penyakit tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata :

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَ رَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ، وَ تَرَكْتُمُ الجِهَادَ، سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ عَنْكُمْ حَتىَّ تَرْجِعُوا إِلىَ دِيْنِكُمْ
Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah [4]), dan kalian telah disibukkan dengan ekor-ekor sapi (peternakan), dan telah senang dengan bercocok tanam, dan juga kalian telah meninggalkan jihad, niscaya Allah akan timpakan pada kalian kehinaan kepada kalian, tidak akan Allah cabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian. [HR. Abu Dawud] [5]).

Maka dari sini kita bisa mengambil dua faedah :

Pertama : Hadits Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhu ini menyebutkan obat bagi penyakit yang disebutkan secara global dalam Hadits Tsauban serta merincinya.

- Jadi sabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah disibukkan memegang ekor-ekor sapi, dan telah senang dengan bercocok tanam”; merupakan rincian dari penyakit “Cinta dunia.”

- Sedangkan sabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam : “Dan juga kalian telah meninggalkan jihad“; itu merupakan akibat (atau rincian) dari penyakit “Takut mati.“ Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأَرْضِ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآَخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ (38) [التوبة/38]
Wahai orang-orang yang beriman, apa sebabnya, apabila dikatakan kepada kalian : “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah”, kalian merasa berat dan ingin tetap tinggal di tempat kalian? Apakah kalian lebih senang dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, padahal tidaklah kehidupan dunia itu dibanding dengan akhirat kecuali sedikit. [At-Taubah : 38]

Perhatikan dua lafazh hadits di atas, karena itu berasal dari sumber yang sama, (yaitu seorang) yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya, tapi tidak lain itu merupakan wahyu yang beliau terima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Kedua : bahwa manusia berbeda-beda dalam menentukan obat dan solusi bagi musibah yang menimpa umat ini. Di antara mereka ada yang berpendapat dengan cara politik, ada yang berpendapat dengan cara perang (pertumpahan darah), dan ada pula yang berpendapat dengan cara IPTEK, serta masih banyak lagi pendapat-pendapat lainnya. Adapun solusi dan jalan keluar yang ditempuh oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dengan cara dien, da’wah dan Tarbiyyah. Karena umat ini jika beragama dengan agama yang benar dan beramal dengan sunnah-sunnah beliau niscaya akan menjadi baik semua urusan mereka. Namun jika mereka berpaling dari sikap ruju’ (kembali) kepada agama mereka niscaya mereka lebih tidak mampu lagi untuk mewujudkan cara-cara yang lainnya. Hal itu karena Ahlus Sunnah As-Salafiyyun adalah orang yang paling berhak atas Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan paling bangga dengan da’wah beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kepada manusia ilmu dan bersabar di atasnya. Sampai Allah tampakkan kepada mereka berupa disambutnya da’wah tauhid dan terwujudnya kemenangan.

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5) [الروم/4، 5]
Dan pada hari itu kaum mu’min bergembira dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. [Ar Rum : 4-5]

Kalaupun umat tidak menerima da’wah mereka –termasuk da’wah tauhid– maka mereka tetap kokoh dan bersabar di atas jalan tersebut, tidak menyimpang sedikitpun dari jalan ini sampai bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Rabbaniyyah yang telah Allah berfirman tentang mereka :

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79) [آل عمران/79]
…tapi jadilah kalian orang-orang Rabbani, dengan sebab kalian selalu mengajarkan Al Kitab dan dengan sebab karena kalian selalu mempelajarinya. [Ali ‘Imran : 79]

Oleh karena itu tidak benar ijtihad (pendapat) orang-orang yang menyatakan bahwa problematika umat ini akan selesai dengan cara politik, atau dengan cara perang, atau melalui jalur IPTEK, atau pun cara-cara yang lainnya. Hal ini karena Rasulullah telah menyatakan dengan tegas, bahwa solusinya adalah : [sampai kalian ruju’ (kembali) kepada Dien (agama) kalian]. Tidak ada cara untuk bisa ruju’ (kembali kepada agama) kecuali dengan cara mempelajarinya. Maka solusi dari problem tersebut semuanya berporos dan kembalinya kepada At-Ta’lim (mempelajari agama), sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

إِنَّمَا العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَ الحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ
Hanyalah ilmu itu didapat dengan cara mempelajarinya, dan hanyalah hilm (sikap bijak) itu diperoleh dengan cara tahallum (usaha untuk bersikap bijak) [HR. Al-Khathib] [6])

Maka jelaslah dari dalil-dalil di atas, dan dengan memadukan antara :
- Kandungan hadits Tsauban -yang menyebutkan bahwa penyakitnya itu terletak di hati : [Cinta dunia dan takut mati]-
- Dan Kandungan hadits Ibnu ‘Umar -yang menyebutkan obatnya, yaitu [sampai kalian ruju’ (kembali) kepada agama kalian]-

Dari sini jelaslah bahwa : Perbaikan pertama kali yang harus dilakukan adalah perbaikan hati, yaitu dengan cara membersihkan aqidah yang ada di dalam hati. Sebagaimana hal ini telah dinyatakan secara tegas oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :

أَلاّ وَ إِنَّ فيِ الجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَ هِيَ القَلْبُ
Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal darah, jika dia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika dia rusak maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah Al Qalb (hati) [7]). [Muttafaqun ‘alaihi] [8]).

–sekian

(Dikutip dari artikel berjudul asli " Bingkisan Untuk Kaum Muslimin Palestina", url sumber http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=48#more-48)

Footnote :
[1] Hal ini mengingatkan kita pada sebuah hadits dari shahabat Khabbab Al Arat Radhiallahu ‘Anhu : Kami mengadu kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ketika beliau sedang berbantalkan burdahnya di bawah Ka’bah –di mana saat itu kami telah mendapatkan siksaan dari kaum musyrikin–. Kami berkata berkata kepada beliau : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memohonkan pertolongan untuk kita? Mengapa engkau tidak berdo’a kepada Allah untuk kita?”

Maka beliau langsung duduk, wajahnya memerah seraya bersabda : “Dahulu umat sebelum kalian ada yang disisir dengan sisir besi, sehingga berpisahlah tulang dan dagingnya, akan tetapi perlakuan itu tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan ini (Islam), hingga (akan ada) seorang pengendara yang berjalan menempuh perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah atau (dia hanya khawatir terhadap) srigala (yang akan menerkam) kambingnya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa. [HR. Al Bukhari No. 3612, 3852, 6941; Ahmad IV/165-166, VI/395]

Itulah kalimat yang keluar dari lisan seorang nabi yang sangat menginginkan kebaikan bagi umatnya, yang merasa berat dan susah atas segala penderitaan yang dialami oleh umatnya. Kalimat ini dinyatakan oleh beliau ketika kaum muslimin sedang dalam keadaan tersiksa oleh kekejaman Quraisy. Kalimat ini keluar untuk menyejukkan hati para shahabat beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, yang sedang mengalami penyiksaan dan penderitaan, dirundung berbagai kesusahan dan musibah……dan merasakan perjalanan da’wah ini terlalu panjang. Inilah tarbiyah nabawi untuk para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, generasi terbaik dan terutama di umat ini…..tidak kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengambil jalan pintas dan merasakan apa yang beliau alami selama ini sebagai jalan yang sangat panjang, yang kemudian mendorong beliau untuk melakukan tindakan pembunuhan, penculikan, dan tindakan-tindakan teror yang lainnya menghadapi kekejaman pemerintahan kafir Quraisy. Tidak pula Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan orasi-orasi dan provokasi-provokasi terhadap umat untuk melakukan tindakan-tindakan di atas. Karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tahu dan mengerti kondisi umat yang lemah dan membutuhkan adanya At-Tashfiyyah (pembersihan) aqidah mereka dari segala perkara yang mengotorinya serta melakukan At-Tarbiyyah (pembinaan) umat menuju kepada ilmu dan aqidah yang benar.

[2] Dinukil dari Hayatu Al Albani wa Atsaruhu I/389-391 karya Ibrahim Asy Syaibani.

[3] HR. Ahmad V/278 dan Abu Dawud no. 4297, dari hadits Tsuban Radhiallahu ‘Anhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 958.

[4] Jual beli ‘inah adalah jual beli dengan cara riba. Contohnya si A menjual barang kepada si B dengan harga tertentu dan pembayaran dilakukan di belakang hari (kredit). Kemudian sebelum lunas pembayarannya, si A membeli kembali (dengan kontan) barang yang dia jual tersebut dari si B dengan harga yang lebih murah daripada harga yang ditetapkan ketika dia menjualnya. Kemudian nantinya si B harus rtetap membayar barang tersebut dengan harga semula walaupun barang tersebut sudah tidak lagi dimilikinya. (lihat Nailul Authar, V/250).

[5] HR. Abu Dawud no 3462, Ahmad II/28. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di Ash Shahihah no. 11.

[6] HR. Al-Khathib di dalam At-Tarikh IX/127, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah 342.

[7] Maka wajib membersihkan qalbu (hati) umat ini dari aqidah-aqidah yang mengotorinya, agar perbuatan dan tindakan anggota tubuhnya menjadi baik. Hati mereka harus dibersihkan dari noda kesyirikan agar anggota badan mereka tidaklah beribadah kepada selain Allah. Dibersihkan hati mereka dari noda aqidah mu’tazilah dan khawarij agar selamat lisan mereka dari pengkafiran terhadap kaum muslimin serta caci makian terhadap ‘ulama dan para penguasa muslimin dan seterusnya dari berbagai macam aqidah-aqidah sesat yang mengotori qalbu mereka.

[8] HR. Al-Bukhari 52; Muslim 1599, dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu .

Sumber:http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1383

Saturday, January 10, 2009

Koneksi Internet pake HP D-One DM289

Malam ini saya diminta melakukan koneksi ke Internet menggunakan HP D-One (GSM & CD On). Awalnya sih udah konek pake flexy, tapi ga stabil, trus lambat sekali lagi. Waktu coba yang pake gsmnya malah ga nyambung2. Apa sih masalahnya ya....?

Tuesday, January 06, 2009

Hukum, Keutamaan, dan Sejarah Puasa Asyura

Shaum ‘âsyûrâ` adalah shaum (puasa) hari Asyûrâ`, yaitu hari ke-10 bulan Muharram. Shaum pada hari ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang shaum pada hari Asyura`, maka beliau menjawab :

يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ

“(Shaum tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)

Shaum ini merupakan shaum sunnah. Dulu Nabi shalallahu’alaihi wa sallam biasa melakukannya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ummul Mu`minin Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu’anha :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ r يَصُومُهُ.

“Dulu kaum Quraisy biasa bershaum hari ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Dan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam juga terbiasa bershaum pada hari tersebut (yakni sebelum beliau berhijrah ke Madinah).” [HR. Al-Bukhâri 2002, Muslim 1125]

Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ r قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ r « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ r : « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ r وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

Bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]

Maka awal setiba beliau di Madinah, beliau memerintahkan para shahabatnya untuk melaksanakan shaum pada hari ‘Asyura. Bahkan menjadi shaum wajib bagi kaum muslimin. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu’anha :

كَانَ رَسُولُ اللهِ r أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dulu Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari ‘Asyura. Namun ketika diwajibkan shaum Ramadhan, maka jadilah bagi siapa yang mau boleh bershaum (’Asyura`) dan barangsiapa yang mau boleh juga tidak bershaum.” [Al-Bukhari 2001, Muslim 1125]

Kewajiban tersebut diperkuat dengan adanya seruan umum atas perintah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam , sebagaimana dikisahkan oleh Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu’anhu :

أَمَرَ النَّبِىُّ r رَجُلاً مِنْ أَسْلَمَ أَنْ أَذِّنْ فِى النَّاسِ « أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ ، فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ »

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan seseorang dari Aslam untuk mengumumkan kepada manusia : “Bahwa barangsiapa yang telah terlanjur makan, maka hendaknya ia bershaum pada sisa hari tersebut. Barangsiapa yang masih belum makan, hendaknya ia bershaum. Karena sesungguhnya hari ini adalah hari ‘Asyura` “. [HR. Al-Bukhari 2007, Muslim 1135]

Demikianlah, pada awal mula hijriah shaum ‘Asyura` merupakan kewajiban atas kaum muslimin.

Namun kemudian kewajiban tersebut dihapus dengan turunnya perintah shaum Ramadhan. Hal ini berdasarkan penegasan shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma :

صَامَ النَّبِىُّ r عَاشُورَاءَ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ . فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ

“Nabi shalallahu’alaihi wa sallam melaksanakan shaum ‘Asyura, dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum juga pada hari tersebut. Namun ketika shaum Ramadhan diwajibkan, maka (shaum ‘Asyura) ditinggalkan.” [HR. Al-Bukhari no. 1892]

Juga sebagaimana penuturan ‘Aisyah radhiyallahu’anha :

فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ، وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ ، فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

“Ketika turun perintah shaum Ramadhan, maka shaum Ramadhan menjadi kewajiban, dan ditinggalkanlah (kewajiban) shaum ‘Asyura`. Jadinya barangsiapa yang mau boleh bershaum pada hari tersebut dan barangsiapa yang mau boleh tidak bershaum pada hari tersebut” [HR. Al-Bukhari 4504]

Maka dihapuslah kewajiban shaum ‘Asyura`, dan hukumnya berubah menjadi mustahab (tidak wajib).

Namun dalam pelaksanaanya, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tidak suka kalau hanya dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram saja. Beliau menginginkan untuk berbeda dan menyelisihi kaum Yahudi yang juga punya kebiasaan bershaum ‘Asyura`. Maka beliau menginginkan untuk melaksanakannya pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Hal ini sebagaimana dituturkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ r يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ».

قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللهِ r.

Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk bershaum pada hari itu, para shahabat shahabat berkata : “Itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Bila tiba tahun depan Insya Allah kita (juga) akan bershaum pada hari ke-9 (bulan Muharram).”

Ibnu ‘Abbas berkata : Namun belum sampai tahun depan kecuali Nabi shalallahu’alaihi wa sallam telah wafat terlebih dahulu. [HR. Muslim no. 1134]

Oleh karena itu shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma menegaskan :

صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ.

“Bershaumlah pada hari ke-9 dan ke-10, selisihilah kaum Yahudi!” [HR. ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf - nya 7839, Al-Baihaqi IV/287. Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya di bawah hadits no. 755]

Dalam riwayat lain, disebutkan agar bershaum pada tanggal 9 dan 10, atau 10 dan 11, atau 9, 10, 11.

« صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً »

“Bershaumlah kalian pada hari ‘Asyura, dan selisihilah kaum Yahudi. Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” [HR. Ahmad 1/241, Ibnu Khuzaimah 2095]

Berarti shaum dilaksanakan tanggal 9 dan 10 Muharram, atau 10 dan 11 Muharram

Dalam riwayat lain dengan lafazh :

« صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا »

“Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” [HR. Al-Baihaq IV/287]

Berarti shaum dilaksanakan tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Namun tentang kedudukan hadits tersebut, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa sanadnya dha’if (lemah). Karena adanya perawi yang lemah, yaitu Ibnu Abi Laila. Dia adalah perawi yang jelek hafalannya. Ibnu Abi Laila yang jelek hafalannya ini meriwayatkan hadits tersebut secara marfu’ (sampai kepada Nabi), yang riwayatnya tersebut berbeda dengan riwayat perawi lain yang lebih kuat hafalannya, yaitu ‘Atha` dan lainnya, yang mereka meriwayatkan hadits tersebut secara mauquf (hanya ucapan) shahabat Ibnu ‘Abbas. Riwayat yang mauquf ini shahih sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dan Al-Baihaqi. Demikian penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ta’liq Shahih Ibni Khuzaimah no. 2095.

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata :
“Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mensyari’atkan kepada kita untuk bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.
- bershaum pada hari ke-9 dan ke-10 ini yang paling utama.
- kalau bershaum pada hari ke-10 dan 11 maka itu sudah mencukupi, karena (dengan cara itu sudah) menyelisihi Yahudi.
- kalau bershaum semuanya bersama hari ke-10 (yaitu 9, 10, dan 11) maka tidak mengapa. Berdasarkan sebagian riwayat : “Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.”
- adapun bershaum pada hari ke-10 saja maka makruh.”
[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XV/403, fatwa no. 158]

Jadi, yang paling utama adalah shaum hari ke-9 dan ke-10.

Namun, para ‘ulama lainnya ada yang berpendapat bahwa yang paling utama adalah bershaum tiga hari, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram. Ini merupakan pendapat Ibnul Qayyim (dalam Zadul Ma’ad II/76) dan Al-Hafizh (dalam Fathul Bari).

Pendapat ini dikuatkan pula oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah. Beliau berkata :

“Shaum ‘Asyura` memiliki empat tingkatan :
Tingkat Pertama : bershaum pada tanggal 9, 10, dan 11. Ini merupakan tingkatan tertinggi. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad : Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Selisihilah kaum Yahudi.” Dan karena seorang jika ia bershaum (pada) 3 hari (tersebut), maka ia sekaligus memperoleh keutamaan shaum 3 hari setiap bulan.
Tingkat Kedua : bershaum pada tanggal 9 dan 10. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Kalau saya hidup sampai tahun depan, niscaya aku bershaum pada hari ke-9.” Ini beliau ucapkan ketika disampaikan kepada beliau bahwa kaum Yahudi juga bershaum pada hari ke-10, dan beliau suka untuk berbeda dengan kaum Yahudi, bahkan dengan semua orang kafir.
Tingkat Ketiga : bershaum pada tanggal 10 dan 11.
Tingkat Keempat : bershaum pada tanggal 10 saja. Di antara ‘ulama ada yang berpendapat hukumnya mubah, namun ada juga yang berpendapat hukumnya makruh.

Yang berpendapat hukumnya mubah berdalil dengan keumuman sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shaum ‘Asyura`, maka beliau menjawab “Saya berharap kepada Allah bahwa shaum tersebut menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” Beliau tidak menyebutkan hari ke-9.

Sementara yang berpendapat hukumnya makruh berdalil dengan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Selisihilah kaum Yahudi. Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” Dalam lafazh lain, “Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” Sabda beliau ini berkonsekuensi wajibnya menambahkan satu hari dalam rangka menyelisihi (kaum Yahudi), atau minimalnya menunjukkan makruh menyendirikan shaum pada hari itu (hari ke-10) saja. Pendapat yang menyatakan makruh menyendirikan shaum pada hari itu saja merupakan pendapat yang kuat.”

[Liqa`at Babil Maftuh]
Sementara itu, ketika Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta`ditanya apakah boleh melaksanakan shaum ‘Asyura` satu hari saja? Maka lembaga tersebut menjawab :

“Boleh melaksanakan shaum hari ‘Asyura` satu hari saja. Namun yang afdhal (lebih utama) adalah bershaum sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Ini merupakan sunnah yang pasti dari Nabi shalallahu’alaihi wa sallam berdasarkan sabda beliau “Kalau saya masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan bershaum pada hari ke-9.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata : “Yakni bersama hari ke-10.”

Wabillahit Taufiq. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa Shahbihi wa Sallam.

Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta`

Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan

Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi

Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

[dari Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta` X/401, fatwa no. 13.700]

(Dikutip dari artikel berjudul asli "SHAUM ‘ÂSYÛRÂ`". Sumber url http://www.assalafy.org/mahad/?p=294#more-294)

Musibah di Palestina

Kemarin aku mampir ke tempat saudara di pengok Lempuyanagn. Di sana langsung dikasih tahu sama kakakq. "Sikap Si Fulan dalam permasalahan Palestina kok tidak seperti ketika menyikapi permasalahan kaum muslimin di ambon ya....? Kalo dulu kan langsung bertindak untuk segera membantu. Nah sekarang malah menjawab : 'Itu karena kesalahan rakyat Palestina sendiri yang banyak melakukan kesyirikan.....'"

Sebetulnya gimana sih nasehat/fatwa ulama tentang musibah di palestina ini....?
Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca di sini

UAS SO (5 Januari 2009)

Matakuliah : Sistem Operasi
Hari/tanggal : Senin/5 Januari 2009
Sifat Ujian : Closed Book
Dosen Penguji : Retantyo Wardoyo

1. Bandingkan kelebihan dan kekurangan sistem tight couplrf dan loose coupled
2. Apakah manfaat sistem layered dalam struktur sistem operasi>
3. Bagaimanakag penggunaan PCB dalam switching dari satu proses ke proses lain?
4. Dalam Sistem Operasi IBM OS/360, bagaimana sistem operasi mengeksekusi program dalam hal CPU scheduling dan manajemen memori?
5. Beberapa program akan dieksekusi dengan urutan sebagai berikut:
Program Ukuran Waktu Suplai Kegiatan
P1 300Kb 0 P(7) - I(10) - P(8)
P2 500Kb 2 P(4) - O(8) - P(10)
P3 450Kb 5 P(5) - I(15) - P(3) - O(5) - P(4)
P4 200Kb 6 P(12)
P5 350Kb 8 P(8) - I(10) - P(5)

Friday, January 02, 2009

Ngenet di Masjid

Alhamdulillah akhirnya bisa juga ngenet di Masjid prawirotaman. Pake HP smart ternyata lumayan cepet juga.... :) Ini lagi sama Pak Diono ambyar Tenan.... :) Untuk toyiz (Aziz Al Bari) Kalo dah di Australia jangan lupa sama yang di masjid ya... Insya Allah komunikasi lewat internet dengan masjid bisa lebih lancar :)

Wednesday, November 12, 2008

Mid Semester S2 UGM 2008

Tanggal 4 sampai 7 November 2008 MID Semester di S2 Ilkom UGM. Ini merupakan mid pertama yang harus saya ikuti. Tapi di Mid yang pertama ini saya merasa sangat kacau sekali. Selain saya tidak menguasai materi, tidak pernah belajar, selain itu juga mulai hari kedua mid, malah ada pelatihan Inherent di PPTIK. Saya diberi tugas untuk mengikuti pelatihan sama STMIK El Rahma. Selain itu juga, saya lagi semangat-semangatnya mengikuti hafalan di Huffadh Ponpes Krapyak.
Hari Pertama materinya Sistem Operasi, mulai jam 8 pagi. Alhamdulillah saya sempat membaca materi mulai jam 6 pagi itu. Ujian Close Book, alhamdulillah saya tidak bisa mengerjakan dengan maksimal.
Hari kedua materinya Manajemen dan Sistem Informasi. Karena ada informasi open book, maka saya sudah mempersiapkan untuk mencetak slide dari materi yang pernah disampaikan sama Bu Susi. Alhamdulillah saya bisa mengerjakan ujian dengan kondisi seadanya. Di soal terakhir diminta mengomentari tugas yang dikumpulkan, padahal saya hanya copy paste dari internet, dan saya kasih sumbernya. tapi saya ga membaca artikelnya kecuali hanya sekilas. Al Hasil saya pun mengomentari dengan seadanya yang ada di pikiran aja.
Hari Ketiga materinya Keamanan Jaringan. Ada informasi, materi yang diujikan Pak Jazi, sifat ujiannya Open Book dan Notebook ON. Beneran... ternyata Notebook ON, maka dengan enaknya saya cari jawaban sambil browsing di internet. Moga aja bisa jadi harapan. Saya pun udah siap kamus komputer sama kampus Hacker. Masalahnya ada info juga kalo pak Jazi suka ngasih soal mengenai istilah-istilah yang berkaitan dengan materi. Bener juga... tapi karena Notebook ON, ya akhirnya kamus ga dipake. Lha wong di Internet aja juga udah tersedia kok :)
Hari kamis, hari keempat, materinya Kecerdasan Buatan dan Model Pemikiran. Sifat Ujian Open Catatan. Tapi Materi catatan saya cuma dikit, slide juga terbatas. Ada pertanyaan mengenai test Turing??? Apa itu ya...? Karena saya belum tahu, makanya saya SMS temen yang ngajar AI di El Rahma. Eh.. karena SMS saya hanya "Test Turing apa?", temenku malah ga paham maksudnya. Akhirnya ... ya aku jawab sebisanya aja dan hanya mengarang indah saja. Moga aja Allah SWT memberikan keajaiban seperti yang biasa saya alami :)
Hari jumat merupakan hari terakhir. Materi ujiannya Logika samar. Sifat Ujian Open Catatan Juga. Dosennya Pak RTW (Pak Retantyo Wardoyo). Semester ini saya ngambil 5 mata kuliah, 3 mata kuliah sama pak RTW. Sampe2 diapalin sama pak RT:). Di hari terakhir ini pun saya ga bisa mengerjakan dengan baik. Tapi ya ku coba untuk menjawab semampunya. 7 menit sebelum waktu habis, adzan berkumandang. Ketika Adzan hampir selesai, listrik padam. Allah SWT ternyata menampakkan kekuasaanya dengan adanya Angin yang sangat kencang dan Hujan deras. Ya... Waktu itu Angin puting beliung menyerang UGM.
Genteng Atap Gedung SIC banyak yang pecah, sehingga Air masuk ke ruangan, ruangan di Lantai 2 banjir. Alhamdulillah kaca2 jendela tidak pecah, waktu itu saya lagi di dekat kaca jendela Sebelah belakang ruang SIC-301. Moga aja selain Allah SWT menunjukan kebesaran dan kekuasaanNya dengan adanya angin puting beliung, Allah memberikan keajaiban dengan hasil mid semesterku..... :)

Friday, October 24, 2008

Overview of PHP Data Types and Concepts

PHP began life as a way to manage a small personal website and was imagined and realized
by just one man, Ramsus Lerdorf. Originally dubbed Personal Home Page Tools, PHP quickly
evolved over the years from the basic scripting engine for a personal website into a highly
competitive, extremely robust code engine that is deployed on millions of websites across
the globe. PHP’s fast, effective engine; its widespread, open-source developer base; and its
platform flexibility have all come together to create one of the world’s most effective online
scripting languages.
Throughout the years PHP has continued to improve on its foundations, providing
increased functionality and scalability. Because of PHP’s standard of listening to the community,
fresh functionality is consistently added to every new release, allowing for more versatile code and upgrades to its already substantial library of built-in methods. For years, people have been using the PHP 4 series of code to create robust and powerful applications.

There is always room for improvement, however. Although PHP 4 is considered to be an
object-oriented programming (OOP) language, the class functionality found within it was not
entirely as flexible as some developers wanted it to be. Older OOP languages that have had
more time to grow have some strong functionality that PHP simply was not able to roll out in
its PHP 4 releases.
But that was then, and this is now. A very exciting occasion occurred for PHP developers
everywhere on July 13, 2004: PHP released its long-anticipated version 5. Sporting a new
object model powered by the already superb Zend II engine, PHP was ready to bring OOP
to a new level with this release.
On top of new, more powerful class structures and functionality, PHP 5 has introduced
many exciting features, some of which the community has been clamoring about for ages.
Say “hello (world)” to proper exception handling; new, simple-to-implement XML support;
more verbose Simple Object Access Protocol (SOAP) functionality for web services; and much,
much more.
This book will provide you with highly versatile recipes for improving and expanding
things with the new PHP 5 release. However, before we dive into that, in this chapter we will
give you a simple overview of what PHP can do, what is new with PHP 5, and how you can
apply these new concepts.

1-1.Variables
Variables in PHP are handled somewhat differently than in other similar programming languages.
Rather than forcing the developer to assign a given variable a data type and then
assign a value to it (as in languages such as C++ and Java), PHP automatically assigns a data
type to a variable when a value is allocated to it. This makes PHP rather simple to use when
declaring variables and inputting values into them.
PHP variables, of course, follow a certain set of rules. All variables must begin with $ and
must be immediately followed by a letter or an underscore. Variables in PHP are indeed casesensitive
and can contain any number of letters, numbers, or underscores after the initial $
and first letter or underscore.
Although initially variables in PHP were always assigned by value, since the PHP 4 release
(and including PHP 5), you can now assign variables by reference. This means you can create
something of an alias to a variable that will change the original value if you modify the alias.
This is quite different from value-assigned variables that are essentially copies of the original.
The following example shows a couple blocks of code to give you a good handle on PHP 5
variable functionality.
The Code
//sample1_1.php
//A properly set-up PHP variable.
$myvar = 0;
//An improper PHP variable.
//$1myvar = 0;
$yourvar = "This is my value
";
//An example of assigning variables by value.
$myvar = $yourvar;
//If we were to change it.
$myvar = "This is now my value.
";
echo $yourvar; //Echoes This is my value
//An example of assigning a variable by reference.
$myvar = &$yourvar;
$myvar = "This is now my value.
";
echo $yourvar; //Echoes This is now my value.

?>
This is my value
This is now my value.

How It Works
Using superglobals has taken precedent while people slowly migrate their code from the old,
variable-based method (which requires register_globals to be set to on in the php.ini file) to
the new superglobal array method (which does not require register_globals to be set to on).
Basically, rather than using the old method of gathering data from places such as cookies, sessions,
and form variables, PHP 5 is moving its focus toward the concept of superglobals. A few
custom PHP globals can gather information from different sources. By using these superglobals,
a developer can keep order within a script by knowing and managing exactly where a
variable has come from or will be going to. Considered largely more secure because you can
build code to tell exactly where variables are coming from, rather than just accepting a variable
at face value, superglobals are becoming the standard.
The default configuration for PHP 5 insists that the register_globals value be set to off.
This means you have to put a little more thought into your code. Rather than just receiving a
value and running with it, you must specify to PHP where the value is coming from and potentially
where you are going to put it. The following is an example of some superglobals in
action:
//Rather than accepting a value from a form like this:
$formvar = $formvar;
//Or like this:
$formvar = $HTTP_POST_VARS['formvar'];
//The new, way to receive a form var is as such:
$formvar = $_POST['formvar'];
?>
Similarly, get variables, session variables, cookies, files, and a few others are now handled
in much the same way. Consider this example with sessions that will check for a valid login:
if ($_SESSION['loggedin']){
echo "Proper login";
} else {
echo "You are not logged in.";
}
?>
By knowing exactly where your data has come from, you can prevent malicious people
from inserting false code into your premade scripts through, say, the address bar.
To get a full understanding of PHP 5 and its variable system, please see Chapter 10 by
Frank M. Kromann, where he will cover the wide world of variables in depth.

Source : PHP5 Recipes A Problem Solution Approach

Wednesday, October 15, 2008

Bertanya Yang Perlu Saja

Setelah saya mencoba menjawab pertanyaan dari "Pak Dhe" sebelumnya, pak Dhe pun ngasih pertanyaan lagi. "Di surga besok orang masih shalat ga ya...?"

Walah, pertanyaan apa lagi ini. Ngapain nanya2 kayak gitu sih :(. Yang penting kita kan hidup di dunia Beribadah sama Allah saja dengan baik dan benar. Selain itu juga memperbanyak amal ibadah dengan ikhlas dan benar sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah saw... Nah itu semua untuk mempersiapkan hidup di akhirat. Masalah di surga Apakah masih shalat ato tidak itu kan urusan nanti. Lha wong belum tentu kita bisa masuk surga kok ('Naudzubillahi Min Dzalik. Harapannya sih kita bisa masuk surga n jangan sampe masuk neraka. Allaahumma Innii As alukal Jannah, Wa A'udzubika Minan Naar)

Ya dah nanti aku tanya lagi sama yang lebih tau. Setelah nanya lagi sama Pak Irfan (Lha yang sering ketemu n bisa lagi enak ditanya pak Irfan kok :) ), Pak Irfan pun menjawab : "Biasanya kalo orang suka nanya/memikirkan yang aneh-aneh yang tidak penting, maka dia akan lupa dengan hal-hal/perkara2 yang lebih penting" (Ya intinya gitu lah, klo kata2/redaksinya sih mungkin ga kayak gitu).

Setelah dapet jawaban, aku sms ke pak Dhe. isinya begini : "Assalaamualaikum, janganlah tll memikirkan sesuatu yg aneh n g penting. kawatirnya nanti akanmlupakan hal2 yg pnting.janganlah spt kaum nabi musa yg tll bany bertanya. hampir2 mereka celaka krn tll bny bertny".

Ya masalahnya aku inget dengan ayat dalam Al Quran yang baru saja saya coba hapalkan, yang artinya : "Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil."

Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu."

Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."

Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."

Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya." Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu

(AlBaqarah : 67-71)

Eh... Pak Dhe mbales smsku : "Akal akan hidup dg tanya. Tanpa tanya, akal mandeg. Yang ada 'ketundukan'. Tanya sekedar wawasan, tanpa melupakan n meninggalkan syariat. Wallahua'lam".

Waduh, gimana ini. Aku jawab lagi : "Bertanya baik, tapi yang penting2 aja. Allah dlm Al Quran menyuruh qta bertanya klo tdk tau. tpi juga memberi contoh dg suatu kaum yg bny bertany dg sesuatu yg tdk prl" (seperti ayat di atas)

Waktu nulis sms tu, aku juga ingat ayat Al Quran yg menyebutkan :"maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (An Nahl : 43).

Nah..., klo menurut temen2 gimana ya.....? :)

Allah dan Al Quran Tidak Adil terhadap Wanita???

Seorang temen nanya sama saya: "Boy, kalo kita perhatikan dalam Al Quran, kebanyakan kenikmatan di surga hanyalah untuk laki-laki saja. Nah, ini menjadikan beberapa wanita itu semacam males untuk berbuat kebaikan.... Lha ini gimana?"

Waduh, aku pun bingung. Aku mencoba menjawab secara singkat. Oo, nggak seperti itu. Allah itu Maha Adil, nggak mungkin dong Allah yang Maha Adil hanya akan memberi balasan yang lebih sama orang laki2 saja. Tapi untuk jelasnya, nanti saya coba nanya sama yang lebih tahu. Maka aku pun bertanya sama Pak irfan (Dosen Agama di STMIK El Rahma), selain itu juga nyari artikel di Internet. Nah... akhirnya aku dapet artikel ini nih..., baca baik2 ya....:)

Tanya:

Jika seorang wanita yang shalihah masuk surga namun suaminya tidak masuk surga, apakah ia akan menikah dengan ‘bidadara’?

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan nukilkan fatwa salah seorang ulama terkemuka di zaman ini, Syaikh al-’Utsaymīn.

Syaikh Muhammad al-’Utsaymīn pernah ditanya, “Jika seorang wanita dari kalangan ahli surga belum pernah menikah di dunia, atau ia menikah namun suaminya tidak masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita itu (di surga)?”

Beliau menjawab, “Jawaban atas pertanyaan ini dapat diambil dari keumuman firman Allah Ta’ālā:

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم

“Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat [41]: 31-32)
Sumber :http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/bidadara-bagi-wanita-penghuni-surga/
Untuk lebih lengkapnya silahkan baca artikelnya di sini

Tanya:

Jika seorang wanita shalihah yang sempat menikah dua kali semasa di dunia masuk surga, dan ternyata kedua suaminya pun masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita tersebut?

Jawab:

Apabila wanita tersebut pernah memiliki memiliki lebih dari satu suami di dunia, dan hanya satu dari suaminya yang masuk surga, maka wanita itu akan bersama suaminya yang masuk surga. Namun, bagaimana sekiranya seluruh suaminya masuk surga? Sependek pengetahuan kami, setidaknya terdapat dua pendapat di kalangan ulama dalam hal ini:

Pendapat Pertama: Wanita Tersebut Memilih Suami yang Dikehendakinya

Pendapat Kedua: Wanita Tersebut Bersama Suaminya yang Terakhir

Sumber: http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/jika-dua-suami-masuk-surga-istri-dengan-siapa/

Untuk lebih lengkapnya silahkan baca artikelnya di sini

'Aid / Kembali Berbagi dengan Blog :)

Assalaamualaikum semuanya....

Setelah lama sekali (sekitar 2 tahun) meninggalkan blog ini, akhirnya aku pingin kembali lagi berkumpul sama-sama temen tuk saling berbagi cerita, pengalaman, ilmu, ato apa ajalah yang penting baik. (Klo saya sih blum bisa ngasih banyak, tapi mungkin saya akan mencoba menuliskan apa yang saya dapat, n klo ada salah, ya mohon koreksi dari temen2 smua:) ). Ya harap maklum... masalahnya ilmunya masih dikit sekali.

Dalam masa-masa bulan syawal ini, biasanya orang saling mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faizin yang artinya kalo ga salah Intinya kembali menuju kemenangan. Nah dari istilah kembali ini, dengan semangat "kembali menuju kemenangan" Insya Allah, saya pingin untuk kembali menulis di blog lagi.

Wednesday, February 15, 2006

Jadikan Istirahatmu Bernilai di Sisi Allah

Dalam Islam, setiap amalan, sekecil apapun, bisa bernilai ibadah. Beristirahat, misalnya. Ia tak sekedar rutinitas melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Namun bisa menjadi pohon yang berbuah pahala. Bagaimana amalan yang nyata-nyata telah menjadi kebutuhan kita sehari-hari ini bisa bernilai ibadah? Simak bahasan berikut!

Hidup memang sebuah pengorbanan dan perjuangan. Berjuang dan berkorban adalah sesuatu yang melelahkan dan memberatkan, dan ketika lelah tentu butuh ketenangan dan istirahat. Namun tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan ini semua. Ada yang hanya bisa beristirahat satu atau dua jam saja setiap harinya. Hidupnya dipenuhi dengan aktivitas dan kesibukan yang luar biasa. Sehingga, kesempatan beristirahat merupakan sebuah kenikmatan dan kasih sayang Allah k yang mesti kita syukuri.
Namun di masa kini, manusia dihadapkan pada pola hidup yang menuhankan materi. Hidup di dunia seolah-olah hanya untuk mencari uang atau materi. Manusia diposisikan sebagai alat produksi yang senantiasa dituntut produktif. Dengan kata lain, segala aktivitas harus ada timbal baliknya secara materi. Pekerjaan adalah no. 1, sementara keharmonisan keluarga, interaksi sosial dengan masyarakat, adalah nomor kesekian. Walhasil, manusia pun tak ubahnya seperti robot. Ini jelas menyelisihi fitrah manusia. Allah k menjelaskan di dalam Al-Qur`an:

وَخُلِقَ اْلإِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (An-Nisa`: 28)
As-Sa’di t mengatakan: “(Allah k menginginkan atas kalian keringanan) artinya kemudahan dalam segala perintah dan larangan-Nya atas kalian. Kemudian bila kalian menjumpai kesulitan dalam beragama maka Allah k telah menghalalkan bagi kalian sesuatu yang kalian butuhkan seperti bangkai, darah dan selain keduanya bagi orang yang mudhthar1, dan seperti bolehnya bagi orang yang merdeka menikahi budak wanita dengan syarat di atas. Hal ini sebagai bukti sempurnanya kasih sayang Allah k, kebaikan yang mencakup ilmu dan hikmah-Nya atas kelemahan manusia (yaitu kelemahan) dari semua sisi. Lemah tubuh, lemah niat, lemah kehendak, lemah keinginan, lemah iman, dan lemah kesabaran. Berdasarkan semua ini sangat sesuai jika Allah k meringankan atas mereka perkara yang dia tidak sanggup untuk melakukannya dan segala apa yang tidak sanggup dipenuhi oleh keimanannya, kesabaran, dan kekuatan dirinya.”
Dan karena kelemahan itu, Allah Maha Bijaksana di dalam menentukan waktu kehidupan bagi mereka. Allah k menjadikan malam dan siang memiliki hikmah tersendiri. Dan adanya malam dan siang itu menunjukkan kasih sayang Allah k terhadap hamba-hamba-Nya dan manakah dari hamba-Nya yang mau mensyukurinya?
Allah k berfirman:

فَالِقُ اْلإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 98)

هُوَالَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيْهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتِ لِقَوْمِ يَسْمَعُوْنَ

“Dialah yang telah menjadikan malam bagi kalian supaya kalian beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kalian mencari karunia Allah k). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah k) bagi orang-orang yang mendengar.” (Yunus: 67)

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوْرًا

“Dialah yang menjadikan untuk kalian malam sebagai pakaian dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (Al-Furqan: 47)

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan karena rahmat-Nya Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qashash: 73)
Dan masih banyak lagi ayat yang semakna dengan di atas. Semuanya menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah k terhadap hamba-hamba-Nya dan bahwa Allah k telah melimpahkan kepada mereka segala yang mereka butuhkan dalam pengabdian dan ibadah kepada Allah k. Namun mengapa kebanyakan manusia ingkar kepada-Nya?
Dan kita semua berkeinginan agar tidur sebagai salah satu bentuk istirahat bukan hanya sebagai ketundukan kepada sunnatullah semata. Kita juga ingin agar tidur kita mendapatkan nilai ibadah tambahan dari sisi Allah k. Allah k melalui lisan Rasul-Nya Muhammad n telah mengajarkan kepada kita beberapa adab di dalam tidur.

Berwudhu Sebelum Tidur
Termasuk Sunnah Rasulullah n adalah berwudhu sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim bermalam dalam keadaan suci, sehingga bila ajalnya datang menjemput diapun dalam keadaan suci. Dan sunnah ini menggambarkan bentuk kesiapan seorang muslim untuk memenuhi panggilan kematian dalam keadaan suci hatinya. Dan jelas bahwa kesucian hati lebih diutamakan daripada kesucian badan. Dan sunnah ini juga akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan menjauhkan diri dari permainan setan yang akan menimpanya. (Lih. Fathul Bari, 11/125 dan Syarah Shahih Muslim, 9/32)
Tentang sunnah ini, Rasulullah n telah menjelaskan dalam sabda beliau:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْئَكَ لِلصَّلاَةِ...

Dari Al-Bara` bin ‘Azib z, berkata: “Rasulullah n bersabda kepadaku: ‘Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah kamu sebagaimana wudhumu untuk shalat.”2
Al-Imam Al-Bukhari di dalam Shahih beliau menulis sebuah bab: “Apabila Bermalam (Tidur) dalam Keadaan Suci”. Al-Hafizh Ibnu Hajar t mengatakan: “Sungguh terdapat hadits-hadits yang menjelaskan makna ini yang tidak memenuhi syarat Al-Bukhari dalam Shahih-nya, di antaranya hadits Mu’adz z:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيْتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا فَيَتَعَارُُُّ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dengan berdzikir dan dalam keadaan suci, kemudian dia terbangun dari tidurnya di malam hari kemudian dia meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat melainkan Allah akan memberikan itu kepadanya.”3 (lih. Fathul Bari, 11/124)
Dan beliau mengatakan: “Perintah (untuk berwudhu di sini) adalah sunnah (bukan wajib).” Beliau mengatakan juga: “At-Tirmidzi mengatakan: ‘Tidak ada di dalam hadits-hadits penyebutan wudhu ketika tidur melainkan di dalam hadits ini’.” (lih. Fathul Bari, 11/125)
Al-Imam An-Nawawi mengatakan: “Di dalam hadits ini terdapat tiga sunnah yang penting, namun bukan wajib. Salah satu di antaranya adalah berwudhu ketika ingin tidur. Dan bila dia dalam keadaan berwudhu maka cukup baginya (dalam melaksanakan sunnah tersebut) karena yang dimaksud adalah (tidur) dalam keadaan suci.” (Syarah Shahih Muslim, 9/32)
Demikianlah sunnah yang tidak ditinggalkan oleh Rasulullah n ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim memperhatikannya. Abdullah bin ‘Abbas c bercerita:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَقَضَى حَاجَتَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ نَامَ

“Bahwa Rasulullah n terjaga di suatu malam lalu beliau menunaikan hajatnya dan kemudian membasuh wajah dan tangannya lalu tidur.”4

Mengibas (Membersihkan) Tempat Tidurnya
Satu dari sekian sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah n berkaitan dengan adab tidur adalah mengibas tempat tidur. Ini dimaksudkan agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan diri seperti binatang berbisa, baik ular, kalajengking, dan sebagainya. Ini dilakukan tidak dengan tangan langsung, supaya terhindar dari sesuatu yang mengotori sekiranya terdapat najis atau kotoran. (Lih. Syarah Shahih Muslim, 9/38 dan Fathul Bari, 11/143)
Rasulullah n bersabda:

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضُ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لاَيَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian beranjak menuju tempat tidurnya maka hendaklah dia mengibas (membersihkan) tempat tidurnya karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.”5

فَإِنَّهُ لاَيَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ
“Dia tidak mengetahui apa yang terjadi kemudian” artinya, kata Al-Imam At-Thibi: “Dia tidak mengetahui apa yang akan terjatuh di ranjangnya berupa tanah, kotoran, atau serangga bila dia meninggalkannya.” (Fathul Bari, 11/144)
Ibnu Baththal mengatakan: “Di dalam hadits ini terdapat adab yang besar dan telah disebutkan hikmahnya dalam hadits, yaitu dikhawatirkan sebagian serangga yang berbahaya bermalam di tempat tidurnya dan mengganggunya.
Al-Qurthubi mengatakan: “Diambil faedah dari hadits ini bahwa sepantasnya bagi orang yang akan tidur untuk mengibas tempat tidurnya karena dikhawatirkan terdapat sesuatu yang basah tersembunyi atau selainnya.”
Ibnul ‘Arabi mengatakan: “Di dalam hadits ini terdapat peringatan dan (anjuran) agar seseorang mengetahui sebab-sebab tertolaknya taqdir yang jelek. Dan hadits ini sama dengan hadits: “Ikatlah ontamu kemudian bertawakkal.” (lihat Fathul Bari, 11/144)

Tidur di Atas Lambung Sebelah Kanan
Kesempurnaan Islam adalah sebuah keistimewaan yang diberikan kepada umat Rasulullah n dan menunjukkan keutamaan mereka atas umat-umat terdahulu. Sungguh merugi bila akal, perasaan, adat istiadat, ajaran nenek moyang dijadikan sebagai hakim atas kesempurnaannya.
Segala perintah, larangan dan bimbingan yang ada di dalamnya adalah demi kemaslahatan manusia. Akan tetapi berapa banyak dari mereka yang mau menerima bimbingan? Yang ingkar lebih banyak daripada yang beriman, dan yang menentang lebih banyak daripada yang taat, dan yang menolak lebih banyak dari yang menerima.
Hikmah yang terkandung dalam bimbingan Rasulullah n untuk tidur di atas lambung kanan adalah lebih cepat untuk terjaga (bangun), jantung bergantung ke arah sebelah kanan sehingga tidak menjadi berat bila ketika tidur.
Ibnul Jauzi berkata: “Cara seperti ini sebagaimana telah dijelaskan ilmuwan-ilmuwan kedokteran sangat berfaedah bagi badan. Mereka mengatakan: ‘Mereka mengawali sesaat tidur di atas lambung sebelah kanan, kemudian di atas lambung sebelah kiri karena tertidur. (Dengan cara) pertama akan menurunkan makanan, dan tidur di atas lambung kiri akan menghancurkannya dan dikarenakan hati (terkait dengan pekerjaan) lambung.” (Lih. Fathul Bari, 11/115)
Rasulullah n bersabda:

ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ اْلأَيْمَنِ

“Lalu tidurlah di atas lambungmu yang kanan.”6

Meletakkan Tangan di Bawah Pipi
Tata cara ini dijelaskan oleh Hudzaifah ibnul Yaman c:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ

“Adalah Rasulullah n apabila beliau tidur di malam hari, beliau meletakkan tangan beliau di bawah pipi.”7

Berdoa Sebelum Tidur

كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ قَالَ: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ

“Rasulullah n apabila akan tidur beliau berdoa: ‘Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan dengan menyebut namamu aku mati (tidur).”8

Membaca Dzikir-dzikir Tidur
Dzikir-dzikir tidur yang ada dan shahih riwayatnya dari Rasulullah n sangatlah banyak, dan buku-buku yang ditulis dalam masalah ini bertebaran di tengah kaum muslimin. Di antara dzikir-dzikir tersebut adalah:
a. Membaca ta’awwudz dan meniup telapak tangan lalu mengusapkannya ke seluruh anggota tubuh.
Hal ini berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ نَفَثَ فِي يَدَيْهِ وَقَرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَمَسَحَ بِهِمَا جَسَدَهُ

“Adalah Rasulullah n apabila beliau akan tidur beliau meniup kedua tangan beliau dan membaca mu’awwidzat (ayat-ayat perlindungan) lalu mengusap dengan itu seluruh jasadnya.”9
Apa yang dimaksud dengan ayat-ayat perlindungan? Dan bagaimana tatacaranya yang dipraktekkan Rasulullah n?
Telah dijelaskan dalam riwayat Abu Dawud (no. 5057) tentang yang dimaksud dengan doa perlindungan dan tatacaranya, yaitu:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا وَقَرَأَ فِيْهِمَا {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} وَ{قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ} وَ{قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ} ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Dari ‘Aisyah, bahwa Nabi n apabila menuju tempat pembaringan pada setiap malam, beliau menghimpun kedua telapak tangan beliau kemudian meniupnya dan membaca Qul Huwallahu Ahad dan Qul A’udzubirabbil Falaq dan Qul A’udzubi Rabbi An-Nas kemudian dia mengusap seluruh tubuh beliau, dan beliau memulai dari kepala kemudian wajah dan bagian depan jasad dan beliau lakukan hal itu tiga kali.”10
b. Membaca takbir, tahmid dan tasbih 33 kali.
Al-Imam Al-Bukhari v mengatakan:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْحَكَمِ: سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي لَيْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيٌّ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ شَكَتْ مَا تَلْقَى مِنْ أَثَرِ الرَّحَا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ. فَانْطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا. فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا فَذَهَبْتُ لأَقُوْمَ فَقَالَ: عَلَى مَكَانِكُمَا. فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي، وَقَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِي؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ وَتُسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ وَتَحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepadaku: Ghundar telah menceritakan kepada kami: Syu’bah telah menceritakan kepada kami dari Al-Hakam: Aku telah mendengar Ibnu Abi Laila berkata: “‘Ali telah menceritakan kepadaku bahwa Fathimah mengeluhkan apa yang beliau dapati (berupa bekas pada tangan beliau) karena menumbuk (tepung). Kemudian dibawakan kepada Nabi n seorang tawanan dan aku segera mendatangi Nabi n. Akan tetapi aku tidak menjumpainya dan beliau menjumpai ‘Aisyah lalu Fathimah menceritakan (hajatnya) kepada ‘Aisyah. Ketika Rasulullah n datang, ‘Aisyah memberitahukan tentang kedatangan Fathimah kemudian Rasulullah n mendatangi kami sedangkan kami telah tidur. Lalu aku berusaha bangun, beliau berkata: “Tetaplah kalian di tempat kalian.” Lalu beliau duduk di antara kami, dan aku (kata Fathimah) merasakan dingin kedua kaki beliau yang diletakkannya di atas dadaku dan beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta kepadaku yaitu bila kalian akan tidur bertakbirlah 34 kali, bertasbih 33 kali, dan bertahmid 33 kali lebih baik bagi kalian dari pada memiliki pembantu (budak).”
c. Membaca doa di bawah ini:

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَامَ عَلَى شِقِّهِ اْلأَيْمَنِ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَالَهُنَّ ثُمَّ مَاتَ تَحْتَ لَيْلَتِهِ مَاتَ عَلَى الْفِطْرَةِ

Dari Al-Bara` bin ‘Azib, berkata: Adalah Rasulullah n apabila beliau menuju tempat pembaringan, beliau tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berdoa: “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu dan aku serahkan semua urusanku kepada-Mu dan aku bentangkan punggungku di hadapan-Mu dengan penuh harapan dan rasa takut dari-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan (meminta) keselamatan melainkan kepada-Mu, aku beriman kepada kitab yang Engkau telah turunkan dan Nabi yang Engkau telah utus”, dan Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa mengatakannya lalu dia meninggal pada malam itu maka dia meninggal di atas fitrah.”11
c. Membaca doa di bawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Dari Abu Hurairah z, berkata: “Rasulullah n bersabda: Apabila salah seorang dari kalian menuju tempat tidurnya, hendaklah dia mengibasnya dengan bagian dalam kainnya, karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Lalu dia berdoa: ‘Dengan menyebut nama-Mu wahai Rabb, aku meletakkan lambungku dan karena-Mu pula aku mengangkatnya dan jika Engkau mencabut ruhku maka rahmatilah dia, dan jika Engkau melepaskannya (untuk hidup) maka jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang shalih’.”12
Wallahu a’lam.

1 Orang yang sangat membutuhkan dan bila dia tidak melakukannya niscaya akan binasa, seperti orang yang bepergian sementara bekalnya habis di perjalanan dan dia dalam keadaan sangat lapar yang dapat mengancam jiwanya (jika dibiarkan). Maka agama memperbolehkan memakan segala apa yang didapatinya seperti bangkai, darah, babi, anjing dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhannya di saat itu saja. Ibnu Atsir di dalam kitab An-Nihayah (3/83) menjelaskan: “Sesungguhnya dihalalkannya bangkai bagi orang yang mudhthar hanyalah sebatas memakan apa yang akan menutup laparnya di pagi atau malam dan tidak boleh menjadikannya bekal antara keduanya (mempersiapkan di pagi hari sampai malam, pent.)
2 HR. Al-Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710
3 HR. Abu Dawud di dalam Sunan beliau no. 5042 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud no 5042, Al-Misykat no. 1215 dan di dalam kitab At-Ta’liq Ar-Raghib 1/207-208.
4 HR. Al-Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 4217.
5 HR. Al-Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714
6 HR. Al-Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710
7 HR. Al-Bukhari no. 6314
8 HR. Muslim (no. 2711) dan Ahmad (no.17862) dari shahabat Al-Bara’ bin ‘Azib z. Dari shahabat Hudzaifah ibnul Yaman c dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no.1324) dengan lafadz yang berbeda dengan lafadz Al-Imam Muslim:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يُقُوْلُ: اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

Dan yang semakna dengan hadits ini diriwayatkan dari shahabat Abu Dzar z, dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari (no. 6325).
9 HR. Al-Bukhari no. 6319, Muslim, Abu Dawud no. 5057, Ibnu Majah, dan Ahmad no. 23708 dari shahabat ‘Aisyah x.
10 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 4228
11 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6315 dan Muslim no. 2710
12 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 6320 dan Muslim no. 2714, lafadz ini adalah lafadz Al-Bukhari

Manfaat Menahan Pandangan

Mata dan qalbu senantiasa berhubungan. Jika salah satunya baik, maka akan baik pula yang lainnya. Maka menjaga mata merupakan sesuatu yang mesti kita lakukan agar qalbu merasakan banyak manfaat darinya.

Saudariku muslimah… semoga Allah k memberkahimu.
Dalam edisi yang lalu, kita telah mengetahui aturan syariat dalam masalah menahan pandangan mata. Berikut ini untuk menambah semangat dalam mengamalkan aturan syariat tersebut, kita nukilkan -secara ringkas- uraian yang diberikan oleh Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Asy-Syaikh Taqiyuddin Abu Bakr, yang lebih dikenal dengan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah v, tentang manfaat menahan pandangan mata dalam kitabnya yang sangat bernilai Ad-Da`u wad Dawa`atau Al-Jawabul Kafi liman Sa`ala ‘anid Dawa`isy Syafi.
Pertama: Dengan menahan pandangan mata berarti berpegang dengan perintah Allah k yang merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.
Kedua: Menahan pandangan akan mencegah sampainya pengaruh panah beracun ke dalam qalbu1 seorang hamba.
Ketiga: Menahan pandangan akan mewariskan kedekatan seorang hamba dengan Allah k dan menyatukan qalbunya agar hanya tertuju kepada Allah k. Sebaliknya, mengumbar pandangan akan memecah belah qalbu dan mencerai-beraikannya.
Keempat: Menguatkan qalbu dan membahagiakannya. Sebaliknya, mengumbar pandangan akan melemahkan qalbu dan membuatnya sedih.
Kelima: Menahan pandangan akan menghasilkan cahaya bagi qalbu, sebagaimana mengumbar pandangan akan menggelapkan qalbu. Karena itulah setelah Allah k memerintahkan ghadhul bashar (menahan pandangan dari sesuatu yang diharamkan untuk melihatnya) dalam surah An-Nur (ayat 31 -red):

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ

“Katakanlah (wahai Nabi) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…”
Allah k ikutkan dengan firman-Nya:

اللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ

“Allah (Pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar…” (An-Nur: 35), yakni perumpamaan cahaya-Nya pada qalbu seorang hamba yang beriman yang berpegang dengan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Apabila qalbu itu bercahaya, datanglah utusan-utusan kebaikan kepadanya dari segala arah. Sebagaimana bila qalbu itu gelap akan datang kepadanya awan-awan bala` dan kejelekan dari setiap tempat. Segala macam bid‘ah, kesesatan, mengikuti hawa nafsu, menjauhi petunjuk, berpaling dari sebab-sebab kebahagiaan dan menyibukkan diri dengan sebab-sebab kesengsaraan, semua itu akan tersingkap oleh cahaya yang ada di dalam qalbu. Namun bila cahaya itu hilang, jadilah pemilik qalbu tersebut seperti seorang yang buta yang berkeliaran di malam yang gelap gulita.
Keenam: Menahan pandangan akan mewariskan firasat yang benar yang dengannya ia akan membedakan antara yang haq dengan yang batil, antara orang yang jujur dengan yang dusta.
Ibnu Syujja‘ Al-Kirmani v pernah berkata: “Siapa yang memakmurkan zhahirnya dengan mengikuti sunnah dan batinnya dengan terus menerus muraqabah2, dan menahan pandangannya dari perkara-perkara yang diharamkan, menahan jiwanya dari syubhat dan makan dari yang halal, maka firasatnya tidak akan salah.”
Allah k memberikan kepada hamba-Nya balasan yang sejenis dengan amalan yang dilakukannya, dan “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah k, niscaya Allah k akan menggantikan dengan yang lebih baik dari sesuatu tersebut.”3 Bila si hamba menahan pandangannya dari perkara yang Allah k haramkan maka Allah k gantikan dengan memberikan cahaya pada pandangan hatinya. Allah k bukakan baginya pintu ilmu dan iman, ma’rifah, firasat yang benar dan tepat, semua ini hanya diperoleh dengan bashirah qalb (penglihatan qalbu).
Ketujuh: Menahan pandangan akan mewariskan kekokohan, keberanian, dan kekuatan pada qalbu.
Kedelapan: Menahan pandangan akan menutup celah bagi masuknya setan ke dalam qalbu. Karena setan itu masuk bersama pandangan mata, dan akan menembus bersama pandangan tersebut ke dalam qalbu lebih cepat dari masuknya udara ke tempat yang kosong. Lalu setan pun menyusupkan bayangan (lebih jauh) dari apa yang dilihat dan memperindahnya, sehingga gambaran itu menjadi berhala di mana qalbu berdiam di atasnya. Kemudian setan menjanjikannya, membuatnya berangan-angan, dan dinyalakanlah api syahwat di dalam qalbu. Lalu dilemparkanlah kayu bakar maksiat di atasnya. Jadilah qalbu tersebut berada di dalam api yang menyala-nyala, seperti seekor kambing di atas tungku api.
Kesembilan: Menahan pandangan akan mengosongkan qalbu dari memikirkan hal yang haram, sehingga qalbu hanya tersibukkan dengan perkara yang memberikan maslahat.
Kesepuluh: Antara mata dan qalbu itu ada penghubung dan jalan sehingga saling berhubungan satu sama lain. Bila salah satunya baik, maka baik pula yang lain. Dan sebaliknya, bila salah satu rusak maka rusak pula yang lain. Rusaknya qalbu akan merusakkan pandangan, dan rusaknya pandangan akan merusakkan qalbu. Demikian pula sebaliknya, pandangan yang baik akan menjadikan qalbu baik dan qalbu yang baik akan membaikkan pandangan. Jika qalbu telah rusak jadilah ia seperti tempat sampah yang merupakan tempat pembuangan najis, kotoran dan yang berbau busuk. Bila sudah demikian keadaannya, ia tidak bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi pengenalan terhadap Allah k, cinta kepada-Nya dan kembali pada-Nya, senang dan gembira bila dekat dengan-Nya. Namun yang menempatinya ketika itu adalah perkara-perkara yang sebaliknya.
Wallahul musta’an.
(lihat kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hal. 277-279)

1 Qalbu bermakna jantung, namun sering di-bahasa Indonesia-kan dengan hati. Rasulullah n bersabda tentang jantung ini:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila baik daging itu maka baik pula seluruh tubuh dan bila rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah segumpal daging itu adalah qalbu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
2 Merasakan pengawasan Allah k
3 Diambil dari hadits:
مَنْ تَرَكَ شَيْئًا ِللهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ
, diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad (5/363) dan selainnya.

sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=317

Thursday, February 02, 2006

UAS Selesai, Liburan Lama Menjelang

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, responsi dah selesai. Tapi, Suasana menjadi sepi. Apakah tugas-tugas juga sudah selesai? Kalo saya sih tidak.... Malah semakin bertambah...

Tugas ama hasil responsi belum dikoreksi semua lagi :(.

Mas liburan kemana? pulang? (saya mah gak libur.... Kalo pinginnya sih libur... tapi...)
Sebetulnya aku juga gak pingin pulang, tapi SIM saya dah mati, jadi ya harus pulang.
Bosen juga sih liburan dirumah lama2. Gak ada yang bisa di liatin :). Tenang aja.. nanti tak bawain oleh2 deh. O, ya.. jangan lupa lho nilai saya...

Gimana mas? lancar? nilai saya A kan?. (Bagaimana mau A, coba bayangin deh ... apa yang kamu lakuin waktu ujian PBO, aku tahu lho!!! hayooo....!!!!! Mau tak bilangin sama P....? Tapi tenang aja... Kalkulus mungkin dapet A kok)

Waduh, gimana baiknya ya? Pesertanya tidak sesuai target. Tombok nih panitia. Dah gak dapet subsidi, disuruh bayar listrik untuk lab lagi. HMJ gak pernah yang namanya kalo ngadain acara itu dapet subsisdi. Ya paling tidak... lab gak usah bayar lah, panitia dah bersyukur. Tapi ya gak papa lah. Tapi saya akan coba lobi supaya bisa diturunin. Ato ..... :) (Ya... gak papa :) )

Nilai-nilai dah pada keluar belum ya mas? (belum semua...) Katanya sudah? (Kata siapa? ) Ceritanya kita kan mau pulang mas... Pingin tahu nilainya jelek ato tidak.... (Tenang aja, nanti tak beri tahu kalo saudh keluar) Masa harus kesini lagi kalo nilainya jelek? Kalo jelek kan mau ikut SP....

Kata si ini mas sekarang sombong ya? Ya emang sombong kali? (waduh, masa saya sombong sih?... saya hanya kawatir....) Takut ngganggu ujian? kan sekarang dah selesai? Mas liburan acaranya apa?.... (libur lagi-libur lagi, saya kan gak libur)

Begitulah beberapa suasana disekitar kampus setelah selesai UAS dan menjelang liburan.

Ya Alloh tunjukilah kami jalan yang lurus, sehingga kami bisa tetap berada di jalanmu yang lurus, tetap berpegang pada kitab Mu dan sunnah rasul Mu, dan mengikuti para pendahulu-pendahulu yang shaleh.
Berikanlah kepada kami kekuatan untuk menghadapi segala ujian, cobaan yang Engkau berikan.
Allohumma ya muqallibal quluub tsabbit qolbii 'alaa thoo'atik
Allohumma ya mushorrifal quluub shorrif qolbii 'alaa diinik

3 Februari 2006

Friday, January 13, 2006

Responsi Praktikum ?? Lab I ???

Mas, untuk Lab I Responsinya gimana?
Apa seperti mas Ayo? soalnya di Internet?

Mas, kok Lab I panas sich?
ACnya gimana, kok gak seperti Lab II?

Mas, nilainya jangan sulit-sulit ya...
Masa dari dulu saya dapetnya jelek terus seh ....?

Massssssss kok komputernya banyak yang eror?
Maaaaaasih banyak lagi pertanyaan, usulan, masukan, lan sapanunggalane....

UUns say:
Tenang aja ...
La Tahzan ...
Jangan bersedih ...
Yang sabar ya ...

...Soalnya akan kita tampilkan di internet (mungkin semuanya, mungkin sebagian :) ).
Cari aja soalnya... sesuai praktikum yang diikuti serta jurusannya.
Nanti jawabannya di kirim ke email uunboy@gmail.com dengan subject Responsi . Misalnya : Responsi Progsis 12040325

Masa calon S.Kom, calon ahli komputer kok gak punya email, ato gak bisa buat email, ato gak bisa kirim email :(. Untuk itu emailnya harus sendiri-sendiri :).

Boleh belajar bersama, tapi pekerjaannya gak boleh sama. Kalo orang mengungkapkan isi hatinya kan beda-beda...

Boleh aja hasilnya sama, tapi ya asal tahu aja, nanti nilainya dibagi :). So jangan tanya "Mas, nilainya kok jelek terus sih...?"




Dah tahu artinya kan???
Ya intinya kita diciptakan berbeza-beza, jadi pekerjaannya juga beda-beda. Yang penting intinya sama.

La Tahzan

*) Cercaan musuh dan umpatan orang-orang yang dengki kepada diri Anda
setara dengan nilai diri Anda. Sebab kini Anda menjadi bahan
perbincangan, dan seorang yang penting.

*) Jangan hidup dalam angan angan, tetapi hiduplah dengan realiti.
Dengan hidup dalam angan angan Anda menginginkan dari orang lain apa
yang tidak dapat Anda lakukan. Karena itu jadilah orang yang objektif
(dalam melihat kenyataan)

*) Ketahuilah bahwa orang yang menggibah Anda berarti memberi
kebaikan-kebaikannya kepada Anda, menghapuskan kesalahan-kesalahan Anda
dan menjadikan diri Anda orang yang terkenal. Tentu saja yang demikian
itu adalah nikmat.

*) Tuluskan tauhid Anda untuk Rabb agar hati terbuka. Sejernih mana
tauhid Anda dan sebersih mana keikhlasan Anda maka sejernih dan sebersih
itu pulalah kebahagiaan Anda.

*) Jadilah sosok pemberani yang berhati teguh dan berjiwa kuat. Anda
memiliki semangat dan tekad. Jangan sekali-sekali Anda termakan oleh
rumor dan cerita-cerita yang tidak benar.

*) Yakinlah bahwa dunia ini adalah tempat cobaan, ujian, dugaan, dan
kesedihan. Karena itu, terimalah ia apa adanya dan mintalah pertolongan
kepada Allah.

*) Pahala dari semua yang menimpa Anda ada pada Allah, baik itu kesedihan,
keresahan, kelaparan, kefakiran, rasa sakit, hutang, dan musibah-musibah
yang lain.

*) Ketahuilah bahwa kesulitan itu akan membuka pendengaran, dan
penglihatan, menghidupkan hati, mendewasakan jiwa, mengingatkan hamba
dan menambah pahala. Jangan menerka-nerka peristiwa, jangan menunggu
keburukan, jangan percaya terhadap semua kabar yang tidak jelas, dan
jangan menelan mentah-mentah cerita-cerita yang tidak benar.

*) Bacalah secara berulang-ulang La haula wala quwwata illa billahi,
karena bacaan ini akan membuat hati menjadi tenteram, memperbaiki
keadaan, membuat yang berat menjadi ringan dan membuat Yang Maha Kuasa
menjadi ridha.

*) Perbanyaklah membaca istighfar, sebab dengan istighfar akan ada rezki,
akan ada jalan keluar,akan ada keluarga, akan ada ilmu yang berguna,
akan ada kemudahan, dan akan ada penghapusan dosa.

*) Terimalah bentuk wajah, bakat , pemasukan, dan keluarga dengan
kelegaan hati niscaya anda akan mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan.

*) Ketahuilah bahwa setelah kesulitan itu akan ada kemudahan, dan
setelah kesulitan itu akan ada jalan keluar. Ketahuilah bahwa keadaan
seseorang itu tidak akan tetap selamanya, hari-hari itu akan senantiasa
bergilir.

*) Optimislah, jangan pernah putus asa dan jangan pula menyerah tanpa
usaha. Berbaiksangkalah kepada Rabb. Dan, tunggulah segala kebaikan dan
keindahan dari-Nya

*) Terimalah pilihan ALLAH untuk Anda dengan gembira. Sebab Anda tidak
tahu tentang kemaslahatan. Boleh jadi kesulitan itu baik dari pada
kemudahan.

*) Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri Anda dengan Rabb, akan
mengajarkan kepada diri Anda bagaimana berdo'a, dan akan menghilangkan
kesombongan, ujub, dan rasa bangga diri dari diri Anda.

*) Jauhilah buruk sangka, buanglah angan-angan, khayalan-khayalan yang
merusak, dan pikiran-pikiran yang sakit.

*) Bersyukurlah kepada Rabb atas nikmat agama, akal, kesehatan, penutup
aib, pendengaran, penglihatan, rezki, keluarga, serta nikmat-nikmat
lainnya.

*) Tidakkah Anda tahu bahwa diantara manusia itu ada yang hilang akalnya,
terampas kesehatannya, dipenjarakan, dilumpuhkan, atau ditimpakan bencana?

*) Hiduplah bersama Al-Qur'an, baik dengan cara menghafal, membaca,
mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ini merupakan obat paling
mujarab untuk mengusir kesedihan dan kedukaan.

*) Bertawakallah kepada Allah dan serahkan semua perkara kepada-Nya.
Terimalah semua ketentuan-Nya dengan sepenuh hati, berlindunglah
kepada-Nya, dan bergantunglah kepada-Nya karena sesungguhnya Dia cukup
sebagai pelindungmu.

*) Maafkanlah orang yang pernah melakukan kezaliman kepada Anda,
sambunglah tali silaturahmi orang yang memutuskan tali silaturahmi
dengan Anda, berilah orang yang tidak pernah memberi kepada Anda, dan
bersabarlah terhadap orang yang berbuat jahat kepada Anda niscaya Anda
akan memperoleh rasa bahagia dan aman dalam diri anda.

La Tahzan . DR. Aidh Al- Qarni. Hal. 486-487 (edited)

Aku Meminta...

Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan
penderitaanku.

Allah menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan,
tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan
kecacatanku.

Allah menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan
hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku
kesabaran.

Allah menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari
kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan
adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.

Allah menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari
perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.

Allah menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri,
tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat
menikmati hidup.

Allah menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup,
sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang
lain, seperti Ia mengasihiku.

Allah menjawab.., akhirnya kau mengerti. HARI INI ADALAH
MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN. Bagi dunia kamu mungkin
hanyalah seseorang, ..

Ya Alloh...

Aku bersyukur bahwa aku belum memiliki semua yg kuiinginkan,
itu memberiku alasan untuk mengejarnya.

Aku bersyukur tidak mengetahui segalanya,
karena itu memberiku kesempatan untuk belajar.

Aku bersyukur Engkau memberiku masa-masa sulit,
karena di masa-masa itulah aku dapat tumbuh dan berkembang.

Aku bersyukur untuk keterbatasanku dan ketidaksempurnaanku,
karena itu memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri.

Aku bersyukur atas semua cobaan dan tantangan,
karena aku yakin itu akan membangun kekuatan dan karakterku.

Aku bersyukur atas rasa sedih, susah, duka dan nestapa, karena
merekalah aku bisa lebih tegar dan bijak.

Aku bersyukur atas segala kesalahan dan kegagalan,
karena mereka memberiku pelajaran yang berharga.

Aku bersyukur atas letih, lelah dan capekku,
karena mereka kawan terbaik usahaku.

Ya Tuhanku, Aku bersyukur Engkau tidak menjadikan segalanya mudah bagiku,
karena disanalah aku dapat menemukan makna hidupku dan lebih mendekatkan diri padaMu.

wa min 'indiLlahi khoir...
Allahummaj 'alna min 'ibadikasy syaakiriin....Aamiin...

Sumber: email dari kx_1180@yahoo.com (b@nds)

Ibunda, Kenapa Engkau Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak". "Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan."Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan".

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup.

Sumber: http://www.kpppmasatu.go.id/index.php?name=News&file=article&sid=132

Bila Aku Jatuh Cinta


Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

dudung.net